Budaya dan Pengikisan Ditengah Modernis

Opini_jurnal8 | Secara historis, hadrah atau yang sekarang ini kita kenal dengan musik terbangan atau rebana, sudah dikenal sejak masa Nabi Muhammad SAW. Hal ini terlihat dari penyambutan kaum Anshar kepada Nabi Muhammad SAW. saat sampai di Madinah setelah hijrah dari Makkah.

Di era moderen sekarang semakin sulit kita jumpai orang yang memainkan kesenian ini, bahkan kesenian ini hampir punah melihat orang-orang yang memiliki keahlian semakin berkurang.

Hadrah secara etimologi berasal dari bahasa Arab yakni Hadlaro-yajdluru-hadlran (jadlratan) yang memiliki arti hadir atau kehadiran.

Ada pula yang berpendapat bahwa nama hadrah itu diambil dari nama sebuah wilayah, yaitu Hadramaut. Sedangkan secara terminologis atau istilah, hadrah adalah salah satu bentuk kesenian dalam Islam yang diiringi dengan rebana (alat perkusi) sambil melantunkan syair-syair pujian terhadap Nabi Muhammad SAW. Kesenian hadrah sudah menjadi bagian dari masyarakat Indonesia khususnya di kalangan pesantren.

Ada pula yang berpendapat bahwa nama hadrah itu diambil dari nama sebuah wilayah, yaitu Hadramaut. Sedangkan secara terminologis atau istilah, hadrah adalah salah satu bentuk kesenian dalam Islam yang diiringi dengan rebana (alat perkusi) sambil melantunkan syair-syair pujian terhadap Nabi Muhammad SAW. Kesenian hadrah sudah menjadi bagian dari masyarakat Indonesia khususnya di kalangan pesantren.

Seni Hadrah diperkirakan mulai diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia pada abad ke-13 H.

Seni Hadrah dibawa oleh seorang ulama besar dari negeri Yaman yang bernama Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al- Habsyi (1259-1333H/1839-1931 M). la datang ke Indonesia dengan misi dakwah Islam.

kesenian ini seringkali digelar dalam acara-acara seperti maulid nabi, isra’ mi’raj atau hajatan semacam sunatan dan pernikahan.

Hal itu juga terlihat di beberapa desa yang ada di kecamatan Belo Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat,  di setiap pengantaran mahar saat pernikahan akan di hantar dengan hiburan kesenian hadrah

Masyarakat sangat antusias dalam mengiringi pengantin. Tak kalah juga kaum hawa tak mau ketinggalan dan ikut meramaikan dengan cara melambaikan tangan sambil memegang selendang atau bahan lain seperti ranting – ranting.

Dalam permainan hadran sendiri di iringi dengan rebana yang dimainkan oleh tiga orang laki-laki. Di samping pemain rebana, hadran juga memiliki tarian yang dimainkan oleh 8 orang atau lebih yang saling berhadapan. Rombongan juga ikut menari sambil teriak dan menyanyikan barjanji.

Penulis : Shauky

Leave a Reply