Angka Perceraian Kota Makassar Meningkat, Pemerhati Sosial Minta Bangun Hubungan Harmonis

Jurnal8.com|Makassar,- Kasus perceraian di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) terus meningkat. Tercatat, jumlah janda sepanjang 2023 mencapai 2.030 orang. Hingga di penghujung bulan April 2024 tahun ini, angka perceraian terus mengalami peningkatan lewat sidang di Pengadilan Agama (PA) Kelas 1A Makassar.

Hal tersebut mendapat tanggapan dari Pemerhati Sosial juga Advokat dan Konsultan Hukum, Muhammad Hendra Cahyadi Ashary, S.H, C.PS, C.CA, C.MMI, C.SDM,C.HTC, C.NLPTC, C.SHNT, C.HTH, C.NLPTH, C.GHNC, C.HC, C.NLPC, C.IB. saat ditemui wartawan media ini, Senin, 29/4/2024 di Makassar.

Menurutnya, pada umumnya keluarga terdiri atas ayah, ibu, dan anak-anak.“Ayah dan ibu berperan sebagai orangtua bagi anak- anaknya. Namun, dalam kehidupan nyata sering dijumpai salah satu orang tuanya tidak ada akibat perceraian.

Setiap orang, sambung Muhammad Hendra tidak pernah berharap menjadi orang tua tunggal, “Namun karena nasib berkata lain, banyak orang tua terpaksa mengasuh dan membesarkan anaknya akibat perceraian.” Ujarnya.

Makanya tambah Muhammad Hendra, di dalam keluarga dibutuhkan suasana hubungan yang harmonis antara orang tua yakni suami dan istri serta anak.

“Karena kerukunan di dalam rumah tangga sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan pendidikan anak. Anak adalah korban yang paling terluka ketika ayah ibunya memutuskan untuk bercerai. Anak merasakan ketakutan, dia (anak) takut tidak akan mendapatkan kasih sayang lagi dari ayah ibunya yang bercerai.” Jelasnya

Perceraian kata dia mempunyai dampak negatif terhadap perkembangan psikologi anak, karena pada umumnya perkembangan psikologi anak yang orang tuanya bercerai sangat terganggu,

“Selain itu, faktor negatif dampak dari perceraian adalah kurangnya kasih sayang dan perhatian lagi dari kedua orang tuanya kepada sang anak. Apalagi jika orangtuanya sudah memiliki pasangan baru masing-masing. “ jelasnya.

Dampak psikologis lainnya akibat perceraian tersebut menimbulkan perasaan cemas, bingung, resah, malu dan sedih bahkan bisa terjadi pembullyan juga nantinya.

”Terlebih bagi anak usia remaja, maka anak akan mengalami gangguan emosional dan akan lari pada kenakalan remaja seperti sex bebas, begal, dan narkoba,” tambah Muhammad Hendra.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perceraian memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap psikologis anak.

“Perceraian memberikan dampak psikologis yang jelek dan buruk pada perkembangan anak, yang membuat mereka kehilangan cinta dari kedua orang tuanya. Jadi mari kita bangun hubungan Harmonis di rumah tangga masing masing sebagai cara untuk menghndari perceraian yang semua orang membencinya” tandas Muhammad Hendra. (gus)

Leave a Reply